Saturday, May 20, 2006

“Aku mau lihat penis!” Si Kecil Bertanya Tentang Seks Dan Reproduksi (I)



Kenapa perempuan menstruasi? Dari mana Adik lahir? Kenapa ada di dalam perut Ibu? Anak cerdas selalu ingin tahu tentang diri dan dunia mereka. Bagaimana menghadapi pertanyaan-pertanyaan si Kecil?

Bonus Alia Februari 2006

Santi W.E. Soekanto




Daftar Isi

* Pengantar
* Mengapa Anak Bertanya dan Mengapa Orangtua Perlu Menjawab
* Kapan dan Bagaimana Menjawab Pertanyaan-pertanyaan Si Kecil
* Tips untuk Berbicara Tentang Seksualitas dan Reproduksi dengan si Kecil
* “Aku Mau Lihat Penis!” –Tiga Percakapan Nyata
* Penutup: Banyak Ditanya, Banyak Belajar

Pengantar

BismillaahirRahmaanirRahiim

Allah mengaruniai semua anak dengan dorongan alamiah untuk mengeksplorasi dunianya, dan memberi mereka alat belajar yang canggih dan berfungsi segera sesudah dia lahir. Pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan dan perasa yang mengirim ke otaknya berbagai informasi untuk diolah. Pada waktunya si Kecil juga akan belajar menggunakan lisannya untuk belajar, dan pada saat inilah dia akan banyak bertanya.

Kadang-kadang dia bertanya tentang berbagai hal dalam keseharian yang mungkin akan mudah Anda jawab, seperti “mengapa bajaj tidak punya wiper seperti mobil?” namun acap kali dia juga akan memborbardir Anda dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit Anda jawab. Misalnya saja, “Kenapa Ibu tidak shalat hari ini? Kenapa tidak puasa? Apa itu mens?” atau “dari mana datangnya adik bayi di perut Tante Nina?”

Anda bisa saja berpura-pura tak mendengar dan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan si Kecil yang terasa sulit itu. Resikonya? Anak akan bertanya dan mencari jawab dari sumber-sumber lain yang mungkin justru membahayakan keselamatan lahir batinnya. Tentu Anda tidak menginginkan ini.

Buku kecil ini ditulis sebagai pengantar Anda mempersiapkan diri menjawab berbagai pertanyaan anak tentang masalah yang mungkin menurut Anda sulit dijawab, yakni seksualitas dan sistem reproduksi manusia. Tentu saja sama sekali tidak lengkap. Tidak apa. Alhamdulillah. Semoga Anda jadi tertantang untuk mencaritahu lebih banyak dan belajar lebih dalam sehingga dapat tetap menjadi narasumber utama si Kecil dalam prosesnya belajar mengenal dunia, insya Allah.

Apalagi karena pada waktunya anak pun akan bertanya tentang hal-hal yang barangkali menurut banyak orang tidak sulit karena tidak berkaitan dengan tabu masyarakat, tetapi tetap saja membutuhkan usaha untuk bisa menjawab dengan baik. Misalnya saja, apakah Anda tahu mengapa bajaj tidak punya wiper?

Salam hangat

Santi W.E. Soekanto

santi_soekanto2001@yahoo.com

Mengapa Anak Bertanya dan Mengapa Orangtua Perlu Menjawab

“Mengapa manusia menyusui?”

“Kenapa manusia harus dikhitan?”

“Kenapa perempuan menstruasi?”

“Bagaimana caranya otak berkembang?”

“Apa yang bikin tangan kita bisa bergerak?”

“Bagaimana cara mulut bekerja?”

“Bagaimana suara keluar dari mulut?”

“Bagaimana mata berkembang?”

“Apa itu mukjizat?”

“Apa itu syahwat?”

“Kenapa bebek bertubuh kecil?”

“Kenapa keluar air susu dari teti (payudara)? Di simpan di mana susunya? Kenapa kok nggak habis-habis? Berapa lama bayi disusui? Kalau memang air susu diminum terus dikeluarin lagi lewat pipis dan BAB (buang air besar), ‘kan namanya buang-buang saja. Nggak usah nyusu saja!”

“Bagaimana manusia berkembang biak?”

“Kenapa bajaj nggak ada wiper-nya kayak mobil? Kenapa bajaj nggak ada jendelanya?”

“Kenapa kita harus menutup aurat?”

“Nyawa itu apa? Sama nggak dengan ruh?”

“Aku mau tahu tentang tubuh anak laki-laki. Aku mau belajar tentang tubuh laki-laki. Aku mau lihat penis Bu...”

Semua pertanyaan di atas hanyalah sebagian dari serentetan pertanyaan yang pada suatu malam dilontarkan Nurul Azka, gadis kecil berusia 6 tahun, kepada saya, ibunya. Sejak beberapa tahun terakhir saya menyadari bahwa meski semua anak pada dasarnya selalu merasa ingin tahu, Azka menyimpan bergudang-gudang pertanyaan yang siap dilontarkannya kepada saya dengan kecepatan setinggi Kereta Peluru di Jepang. Hampir tidak ada hari terlewati tanpa dia melontarkan pertanyaan kepada orangtuanya.

Suatu hari saya “tantang” dia untuk menanyakan apa pun saja hal yang ingin diketahuinya – tanpa pembatasan apa pun. Maka terlontarlah puluhan “soal” yang kemudian saya sadari sudah cukup lama menjadi perhatiannya dan ingin dia ketahui jawabannya. Sebagian besar pertanyaan itu bisa saya jawab, sementara untuk sebagian lagi dengan jujur saya katakan tidak tahu dan saya ajak dia untuk mencaritahu di buku-buku keesokan harinya.

Selain banyak bertanya, Azka juga senang buku. Sejak sebelum bisa membaca, dia paling suka didongengi dan dibacakan buku. Suatu kali pernah secara sengaja saya “tantang” dia untuk membacakan buku apa saja yang dia mau karena saya mengira dia akan segera bosan dan memilih bermain di luar rumah saja. Ternyata, hari itu saya harus membacakan 25 buku untuknya!

Meskipun di mata saya Azka adalah anak paling istimewa di seluruh dunia, namun pada kenyataannya anak-anak lain pun tidak kurang kritis dan perseptif. Beberapa pertanyaan di bawah ini dilontarkan adalah anak-anak berusia 12 tahun ke bawah dan dikumpulkan oleh wartawan muda Tara Supono (calon_jurnalis@yahoo.com):

* “Apa itu pemerkosaan?” (Syifa, 12 tahun, tinggal di Ciledug, Jakarta Selatan)
* “ Apa itu pelet?” (Nanda, 10 tahun, Manggarai, Jakarta)
* “Kenapa orang Islam nggak boleh makan babi?” (Novi, 7 tahun, Kemang, Jakarta Selatan)
* “Kenapa manusia nggak punya sayap seperti burung?” (Adiba, 8 tahun, Tanggerang, Jawa Barat)
* “Apa artinya rahim?” (Adib, 9 tahun, Bekasi, Jawa Barat)
* “Adek bayi lahirnya dari mana?” (Gamal, 5 tahun, Bekasi, Jawa Barat)
* “Jin itu apa?” (Gamal, 5 tahun, Bekasi, Jawa Barat)
* “Kenapa perempuan payudaranya membersar? Kenapa perempuan menstruasi? Untuk apa menstruasi? Mimpi basah itu apa? Seperti apa sih?” (Mahesa, 11 tahun, Bekasi, Jawa Barat)
* “Orang itu asalnya dari mana?” (Hanna, 5 tahun, Jakarta Timur)
* “Allah itu bentuknya seperti apa?” (Vani, 5 tahun, Pondok Gede, Jakarta)

Semua itu adalah bukti betapa Allah mengaruniai setiap anak dengan dorongan alamiah untuk belajar dan mengenali dunia di sekitarnya. Allah mengaruniai pula mereka dengan alat-alat belajar tersebut berupa penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman dan pengecap. Inilah sebabnya mengapa si kecil merangkak untuk mengambil suatu benda, merabanya, menciumnya, meletakkannya di telinga, lalu menjilatnya – sebuah proses mengenal diri dan lingkungannya yang tiba-tiba saja terhenti ketika Ibu menjerit, “Ya ampun! Ini anak! Bodoh amat! Jangan! Jangan makan sepatu! Kotor!”

Semakin bertambah usianya, semakin kuat anggota tubuhnya, semakin lebar langkahnya, semakin banyak yang dilihatnya, maka semakin besarlah rasa ingin tahu seorang anak. Bila ditanggapi dengan baik, dorongan alamiah untuk tahu ini akan berkembang menjadi minat belajar dan membaca.

Orang tua mana yang tidak suka bila anaknya rajin belajar? Ada syaratnya tentu saja: guru pertama si kecil, yakni ayah dan ibunya, perlu mempersiapkan diri untuk tidak saja mendidik dan mengajar tetapi juga belajar bersama. Ini artinya orangtua bukan semata-mata meneriaki anak untuk mengerjakan pe-er matematika atau mengetes hafalan kali-kaliannya, tetapi sungguh-sungguh menemani si kecil memulai perjalanan belajarnya.

Berarti pula cukup rendah hati untuk menyadari bahwa tidak ada orangtua yang tahu semua hal, dan berani mengakui kepada si kecil kalau memang tidak tahu. Anak tidak akan kehilangan rasa hormat kalau si ayah atau si ibu mengatakan, “Saya tidak tahu. Nanti kita cari buku untuk dibaca bersama, atau tanya pada orang yang lebih tahu.” Sebaliknya, anak akan kehilangan respek dan dorongan alamiahnya untuk belajar bila orangtua menutupi ketidaktahuan mereka dengan berbohong, mencerca anak atau bahkan menyuruh si kecil tutup mulut!

Satu lagi sarana belajar seorang anak ketika dia sudah semakin besar dan mampu berkomunikasi verbal adalah dengan bertanya. Matanya melihat, telinganya mendengar, hidungnya mencium dan semua inderanya itu mengirimkan pesan ke otak untuk mengolah informasi yang diperoleh. Ketika gudang informasi di otaknya tidak memiliki penjelasan tentang suatu objek, maka dia harus bertanya. Seorang anak berusia 3 tahun sudah bisa bertanya, “Kenapa ayam itu naik ke punggung ayam yang satunya?”

Di banyak kalangan di Indonesia, orangtua sering menganggap bahwa anak “baik” adalah anak yang “manis, penurut, “banyak ‘ngomong” sehingga seringkali seorang anak yang sebenarnya cerdas dan sedang bersemangat mempelajari dunia dipaksa diam karena dianggap “cerewet.” Ada juga orangtua yang malahan mencerca anaknya dan mengatainya “bandel” hanya karena si kecil bertanya ke arah mana bus yang mereka naiki menuju!

Sebenarnya, bila Anda enggan menjawab, anak masih tetap akan bisa menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mereka. Tetapi, apakah ini yang sungguh-sungguh Anda inginkan? Apakah Anda tidak berkeberatan anak mendapatkan informasi tentang Allah, tentang kehidupan dan penciptaan manusia atau tentang seks, misalnya, dari pihak-pihak lain yang barangkali tidak bertanggungjawab?

Sebaliknya, kalau Anda ingin menjadi sumber informasi utama si kecil, maka Anda perlu berusaha menjadi orangtua yang mudah didekati anak dan mau menjawab berbagai pertanyaannya dengan jujur, terbuka dan apa adanya. Anda perlu berusaha menahan diri untuk tidak mentertawakan, menghakimi, mengejek atau bahkan menghukum anak hanya karena dia ingin tahu. Ada orangtua yang langsung meledak dan menuduh si kecil “ngomong jorok!” ketika dia bertanya tentang perbedaan genitalia anak laki-laki dari anak perempuan dengan menggunakan istilah yang “tidak sopan” yang sebenarnya dia pelajari dari orang-orang di sekitarnya.

Anak-anak secara instinktif bisa menandai keengganan orangtua bicara tentang hal-hal tertentu seperti kematian, adopsi, atau seks, dan ini menyebabkan mereka cenderung menutup-nutupi keingintahuan mereka. Kalau Anda sengaja tak mengacuhkan pembicaraan tentang hal-hal “tabu” seperti masturbasi, homoseksualitas atau pornografi, maka anak akan mencari informasi dari sumber lain. Komunikasi terbuka adalah salah satu piranti terbaik mengasuh anak.

Sebenarnya, orangtua tidak perlu merasa terbebani jika anak bertanya bertubi-tubi. Mereka tidak sedang mengetes Anda seperti dahulu guru atau dosen Anda menguji Anda. Si Kecil benar-benar ingin belajar. Dia juga sebenarnya tengah menawarkan kepada Anda kesempatan emas mengarungi sebuah perjalanan mengasyikkan yakni petualangan belajar bersamanya. Dengan bismillah, perjalanan ini bukan saja akan bermanfaat mencerdaskan si Kecil tetapi juga menambah pengetahuan Ayah dan Ibu dan menambahkan manfaat serta pahala amal shalih yang biasanya diperoleh seseorang yang menuntut ilmu. Insya Allah.

Kapan dan Bagaimana Sebaiknya Bicara dengan Si Kecil?

Usia 4 sampai 12 tahun adalah masa penting pembangunan aqidah dan nilai-nilai hidup seorang anak. Allah menjadikan anak-anak di usia ini sangat terbuka dan berminat menerima berbagai hal dan informasi dari orangtuanya.

Sebaiknya memang Anda membiasakan diri bicara dengan si Kecil sedini mungkin sehingga memupuk keberaniannya mengungkapkan isi hatinya, dan membangun kepercayaan diri Anda sendiri untuk menjadi narasumber utama nilai-nilai dan pengetahuan untuknya. Dengan memulai sedini mungkin Anda membangun suasana keterbukaan dan kejujuran.

Bila Anda menanti sampai anak memasuki usia remaja baru mengajaknya bicara soal, misalnya, seks dan reproduksi, maka kemungkinan besar dia sudah membentuk sistem nilainya sendiri berdasarkan informasi dari sumber-sumber lain – teman, bacaan, internet, televisi, film, gosip orang dewasa di sekitarnya.

Bagaimana cara bicara dengan si Kecil?

Coba amati dan catat, selama 5 menit saja misalnya, cara Anda bicara dengan anak? Apakah Anda selalu mulai pembicaraan dengan “jangan!” atau “Mama bilang...” atau “Pokoknya...” Apakah Anda cenderung “berkhutbah?” Apakah Anda memberinya kesempatan untuk lebih dulu mengungkapkan isi hatinya? Ataukah Anda cenderung “tabrak lari” yakni memberinya instruksi begini atau begitu, larangan begini atau begitu, dan meninggalkannya begitu saja dengan harapan dia akan melaksanakan semua perintah Anda?

Tahukah Anda bahwa cara Anda bicara sama pentingnya dengan isi pembicaraan Anda. Berikut ini beberapa prinsip penting berbicara dengan anak:

1. Mulailah selalu dengan doa agar Allah menuntun lisan Anda dan menurunkan ilham untuk memberi jawaban yang bukan saja dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah namun yang lebih penting adalah dapat dipertanggungjawabkan secara aqidah. Anda tidak usah menjadi seorang Einstein, yang dibutuhkan anak hanyalah seorang ibu atau ayah yang mau mengakui bahwa mereka juga tidak tahu bagaimana hoovercraft (semacam pesawat amfibi) bisa berjalan di atas air dan darat, serta bersedia bersama-sama mencari informasi dari buku dan sumber lain. Tetapi yang harus Anda usahakan selalu adalah apa pun yang keluar dari lisan Anda tidak menjadikan si Kecil anak yang semakin jauh dari Allah. Misalnya, kalau si kecil bertanya, “apa sih pelet?” Anda tentu tidak akan mengatakan begini, “Oh, itu ilmu hitam untuk bikin perempuan senang sama laki-laki” bukan? Anda bisa mengatakan, “setahu Ibu itu suatu cara yang sangat dimurkai Allah untuk mempengaruhi perasaan seseorang. Ibu tidak tahu banyak. Nanti kita tanya ustadz ya?”

2. Bila tidak sempat dengan doa yang panjang, ucapkan saja bismillah dan pasrahkan lisan Anda kepada Allah.

3. Kuasai materi pembicaraan semaksimal mungkin. Anda tidak harus jadi pakar, tapi Anda perlu menunjukkan kepada si kecil bahwa Anda tahu apa yang Anda bicarakan. Jadi, sebelum bicara dengan si kecil soal seks atau alkohol, sebaiknya Anda membaca-baca lebih dulu. Yang lebih penting adalah anak tahu bahwa Anda berusaha selalu belajar.

4. Bersikaplah amanah. Bila tidak tahu, katakan dengan jujur bahwa Anda belum tahu. Jangan membesar-besarkan atau memelintir fakta demi membuat anak, misalnya, takut sehingga tidak melakukan sesuatu yang Anda tak ingin ia lakukan. Anak perlu belajar bahwa ibu dan bapak mereka memang bisa dipercaya.

5. Seperlunya saja. Tidak perlu berceramah berpanjang-panjang. Langsung saja ke inti pembicaraan. Dengan demikian, konsentrasi dan daya tampung anak menangkap isi pembicaraan Anda dapat maksimal. Jangan sampai Anda mengalami apa yang pernah saya alami sendiri. Suatu kali Azka yang saat itu baru 3 tahun bertanya, “Bu alam segal itu apa?” Maka bertele-telelah saya menjelaskan tentang lingkungan, bumi dan langit serta iklim yang diciptakan Allah. Begitu saya menarik nafas, Azka menyela, “Maksudku, itu yang dijual olang di depan?” Rupanya, dia bertanya tentang susu segar bermerek “Alam Segar” yang dijajakan orang di depan rumah!

6. Bicara dengan jelas. Gunakan bahasa dan kalimat sederhana yang disesuaikan dengan usia si kecil.

7. Hormatilah pandangan anak. Tanyakan pendapatnya. Dengarkan pembicaraannya sampai selesai. Hanya karena dia jauh lebih kecil tidak berarti Anda perlu memborbardirnya sehingga sikapnya 100 persen sama dengan Anda. Contohnya: Anda mengatakan bahwa merokok itu berbahaya dan bahwa Anda berhenti merokok sesudah merasakan semua bahayanya. Bagaimana kalau si kecil lalu mengatakan bahwa dia pun ingin mencoba dulu sebelum memutuskan untuk tidak merokok? Kalau Anda langsung marah, “’kan sudah dibilangin merokok itu bahaya? Kenapa harus mengulang pengalaman buruk Papa?” maka itu artinya Anda sedang memborbardir dan memaksakan pendapat Anda.

8. Ciptakan kehangatan komunikasi dengan si Kecil pada berbagai kesempatan. Tidak usah menjadikan kesempatan tanya jawab sebagai satu-satunya interaksi dengan si kecil sehingga terasa formal seperti di kelas. Mengobrol ringan, membacakan buku, bergurau dan main tebakan adalah sarana komunikasi terbaik dengan anak sehingga dia biasa terbuka dan tidak takut membuka diri kepada orangtuanya. Ini akan terasa pentingnya untuk mempertahankan jalur komunikasi Anda dengannya begitu si Kecil memasuki usia remaja dan banyak bersinggungan dengan banyak orang serta sumber informasi lain.

Friday, May 19, 2006

Wawancara 'Imajiner' tentang TV

Oleh: Santi Soekanto




Beberapa waktu lalu saya diwawancarai tertulis oleh sebuah majalah Islam tentang pengaruh TV pada perilaku anak. Ternyata, wawancara tak jadi dimuat J Daripada mubazir, lebih baik saya publikasikan di sini saja hehehehe...


BismillaahirRahmaanirRahiim


Apa alasan keluarga Ibu menolak televisi?

Sederhana saja, keluarga kami tidak merasa butuh televisi.

Setiap keluarga punya kebutuhan yang berbeda-beda. Ada yang butuh rumah lebih dari tiga. Ada yang butuh mobil untuk setiap anaknya. Ada yang butuh uang untuk bisa makan hari ini saja, besok entah bagaimana. Keluarga kami juga punya banyak kebutuhan, alhamdulillah kami tidak butuh televisi.


Gambaran mudaharatnya seperti apa?

Banyaknya kemudharatan televisi berbanding lurus dengan bertambahnya hari. Masing-masing keluarga punya standar yang berbeda untuk menentukan apakah sesuatu itu mudharat atau tidak.

Buku dan penelitian yang memastikan keburukan pengaruh televisi sudah banyak sekali. Efek televisi itu memang tidak bisa dilihat dalam sehari. Namun Berbagai kasus kejahatan dan kemaksiyatan yang dipengaruhi televisi sepertinya masih kurang saja untuk kita.

Harus diakui, masih ada inovasi yang sehat dan positif, tetapi dalam kompetisi bisnis yang ketat, pengelola teve cenderung memilih inovasi yang lekas menghasilkan uang. Pada titik inilah nilai-nilai akhlaq apalagi aqidah bukan merupakan bahan pertimbangan.

Sejak kapan tidak punya teve diberlakukan di rumah Anda?

Sejak anak-anak bisa diajak berkomunikasi secara efektif. Tapi sejak kami menikah pun memang belum pernah punya teve. Lebih asyik ngobrol dan berdiskusi daripada menonton teve. Pernah kami dititipi teve oleh saudara, tapi kami bahkan tidak pernah mengeluarkannya dari kardusnya. Nggak minat aja.


Bagaimana reaksi anak-anak pada awalnya?

Keputusan untuk tidak punya teve diambil secara musyawarah. Kami duduk bersama, kami bicarakan: “Ini daftar keuntungan jika kita punya teve, ini daftar kerugian jika kita punya teve…. Sekarang, kita akan beli teve atau tidak?” Lalu mereka menjawab sendiri, untuk tidak usah beli teve. Jadi ini bukan keputusan sepihak orang tua.

Yang jelas, ketika si Kecil berusia 5 tahun dan ditanya, siapa orang yang paling bodoh di dunia? Dia akan menjawab, “Orang yang merokok”. Lalu siapa lagi? “Orang yang kebanyakan nonton teve”.


Apa nilai positif dari televisi?

Mungkin informasinya ya. Tapi hampir tidak ada informasi yang diberikan televisi yang tidak bisa diberikan juga oleh media lainnya, seperti internet, radio, koran, CD-ROM, VCD, majalah, buku. Jadi televisi bukan sesuatu yang tidak bisa tergantikan.


Apa gantinya televisi untuk mereka?

Pertama, orang tuanya. Saya dan suami sama-sama wartawan, kami tahu informasi mana yang mendukung cara-cara kami mendidik anak-anak, mana yang tidak. Kami berdua berusaha jadi media yang paling menghibur untuk kedua anak kami (suami saya adalah ayah terlucu dan paling “gila” sedunia). Mana ada televisi yang bisa diajak membicarakan hal-hal yang paling pribadi, khayalan, cita-cita, sambil dipeluk, dicium, digelitiki, ditunggangi seperti kuda-kudaan, dicubit, ditarik-tarik janggutnya, didengar degup jantungnya. Kami juga suka berdoa bersama mengeja cita-cita kami sambil menangis bercucuran air mata, lalu bersama-sama merancang program-program strategis keluarga yang menyenangkan. Apakah televisi bisa menggantikan ini?

Kedua, sebuah rumah mungil yang kami kontrak khusus untuk jadi perpustakaan dengan koleksi lebih dari 2000 judul buku, games, majalah, puzzle, poster. Anggota perpustakaan ini yang aktif sekitar 200 orang. Mereka datang silih berganti setiap hari, yang tak habis-habisnya bertukar cerita dengan anak-anak kami tentang sekolah, keluarga, dan bikin macam-macam lomba bersama. Apakah televisi bisa menggantikan ini?

Ketiga, seperangkat komputer multimedia. Alat ini bisa dijadikan alat bermain, belajar, menonton film-film bermutu (bukan film dan sinetron sampah yang banyak disuguhi televisi, dipotong-potong pula dengan iklan), mendengarkan musik dan nasyid, belajar mengarang, mengedit film, menjelajah internet, belajar desain grafis, menulis puisi dan banyak lagi. Dan itu semua dilakukan bersama sebagai sebuah tim yang hangat dan kompak. Apakah televisi bisa menggantikan ini?

Sederhananya begini deh. Untuk anak-anak kami, terlalu banyak hal lain yang lebih menyenangkan untuk dilakukan, daripada duduk memandangi sebuah kotak yang 80% suguhannya tidak relevan dengan kehidupan yang sedang kami bangun.


Apakah anak-anak tidak pernah mengeluh tentang teman-temannya yang membicarakan program televisi kesukaannya?

Alhamdulillah, tidak pernah. Mungkin karena teman-temannya yang datang ke rumah cenderung lebih senang ikut ngobrol tentang buku, film bermutu, dan semacamnya.


Apa anak-anak Anda tidak lari ke rumah tetangga untuk nonton teve?

Hehehe… yang ada, anak-anak tetangga pada lari ke rumah kami untuk membaca buku. Jangan lupa, jumlah anggota aktif perpustakaan itu sekitar 200-an orang.


Apa saja kegiatan Bapak dan Ibu saat ini di rumah sehingga bisa mengontrol anak-anak? Bagaimana jika tidak sedang berada di rumah?

Ngobrol dan bercengkerama dengan anak-anak itu menyenangkan. Jikalau bisa 24 jam bersama mereka akan kami lakukan. Saya dan suami malah sekarang mempersedikit keluar rumah. Kan teknologi sudah semakin memungkinkan untuk home-office, berkantor di rumah. Jika tidak sedang di rumah (jarang kami ke luar rumah tanpa membawa anak-anak), ada kakak-kakak mahasiswi atau yang sudah lulus yang sefaham dengan kami untuk menemani mereka.


Apa punya pengalaman buruk dengan televisi, khususnya terhadap anak-anak?

Cukuplah kita belajar dari pengalaman orang lain yang begitu banyak. Masakan kita menunggu hal-hal buruk langsung menimpa kita? Kan bisa diantisipasi.


Bisakah ibu gambarkan kelebihan yang terlihat antara anak-anak Anda jika dibandingkan dengan anak lain yang maniak TV?

Sejujurnya saja, kami belum pernah membanding-bandingkan. Tapi kami terus bekerja keras agar anak-anak kami punya standar-standarnya sendiri dalam memandang kehidupan.

Seperti misalnya, remaja puteri yang bermanja-manja dengan teman lelakinya yang bukan muhrim itu bodoh. Perempuan cantik adalah perempuan yang menjaga kemuliaannya dengan akhlaq, kejujuran, keberanian, amanah, kerja keras, ketepatan waktu, dan kehendak untuk menolong orang yang kesusahan.

Suami yang baik adalah yang paling baik pada isteri dan anak-anaknya. Orang yang takut atau menyembah selain Allah itu bodoh. Musik yang tidak membawa hati pada kekhusyuan itu tidak berguna. Laki-laki Muslim yang tidak segera ke masjid begitu mendengar adzan itu menantang Allah, atau belum faham. Buku yang paling mengasyikkan dibaca adalah Al-Quran. Kisah yang paling menarik adalah kisah Nabi dan para sahabatnya. Jalan hidup itu hanya ada dua jenis, mulia karena menjalankan agama atau mati syahid.

Apakah teve bisa mendukung kita dalam membangun standar-standar ini? Kalau bisa, kami akan beli teve besok pagi.

Thursday, May 18, 2006

Luqmanul Hakim: Model Tarbiyah Islam

Sumber: Dari Sini



Apabila menyebut soal pendidikan anak-anak secara tidak langsung ia lebih tertumpu kepada tugas dan tanggungjawab ibu bapa. Untuk mendidik anak-anak menjadi insan yang kamil tidaklah semudah yang diperkatakan dalam buku, majalah dan seminar.

Ia lebih menekankan soal keinsafan, kesedaran dan sikap tanggungjawab yang mendalam di samping mempunyai aqidah yang kental terhadap Allah SWT. Justeru itu, Allah SWT telah merakamkan beberapa keistimewaan yang dilakukan oleh Luqmanul Hakim sewaktu mendidik anak. Di antara nasihat Lukman kepada anaknya ialah:

1. Hendaklah engkau selalu berada di majlis para ulama' dan dengarlah kata-kata para hukama (orang yang bijaksana), kerana Allah menghidupkan jiwa yang mati dengan hikmat sepertimana menghidupkan bumi yang mati dengan hujan yang lebat.

2. Janganlah engkau jadi lebih lemah daripada seekor ayam jantan, ia telah berkokok pada waktu pagi hari sedangkan engkau pada ketika itu masih terbaring di atas katilmu.

3. Janganlah engkau menangguhkan taubat kepada Allah kerana mati itu akan datang tiba-tiba.

4. Dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak orang sudah ditenggelamkannya. Oleh itu, jadikanlah taqwa sebagai kapalnya.

5. Pukulan bapa ke atas anaknya bagaikan air menyirami tanaman.

6. Tiga orang yang tidak dapat dikenali melainkan pada tiga keadaan. Orang yang lemah lembut melainkan ketika marah, orang yang berani melainkan ketika berperang dan saudara maramu melainkan ketika engkau berhajat dan memerlukan pertolongan daripadanya.

7. Sesungguhnya dunia ini sedikit sahaja, sedangkan seluruh umurmu lebih sedikit daripada itu. Manakala umurmu yang masih berbakti lagi amat sedikit daripada yang lebih sedikit tadi.


AQIDAH

Masalah aqidah adalah masalah yang paling penting dalam kehidupan seorang muslim. Ia merupakan asas atau tapak bagi pembangunan Islam. Dewasa ini kita dapati banyak penyelewengan terjadi sama ada dari segi pemikiran, perkataan mahupun tingkah laku. Kesemuanya berpunca daripada tidak memahami aqidah Islam secara mendalam.

Firman Allah yang bermaksud:

"Dan ingatlah sewaktu Luqman berkata kepada anaknya: "Wahai anak kesayanganku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain). Sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar."(Surah Luqman: 31).

Ayat ini jelas menunjukkan bahawa Luqman memulakan nasihat kepada anaknya supaya tidak melakukan syirik kepada Allah SWT. Jiwa anak yang masih suci itu harus dibersihkan daripada sebarang kerosakan dan kesesatan yang berpunca daripada syirik. Ini bererti pendidikan tauhid mesti diajar dan ditanam ke dalam jiwa anak-anak sejak dari kecil lagi.

Kebanyakan ibu bapa hari ini tidak menekankan pelajaran tauhid kepada anak-anak. Bukan sahaja demikian bahkan terdapat juga di kalangan ibu bapa tidak tahu mengenai pelajaran tauhid. Siapakah yang harus dipersalahkan sekiranya anak-anak generasi muda mudah tergelincir keimanannya?

Syirik amat mudah berlaku sekiranya di dalam diri seseorang itu tidak ditanamkan dengan aqidah untuk beriman dengan Allah SWT secara kental. Membentuk jiwa anak-anak agar sentiasa mengingati Allah dalam segala gerak geri dan perbuatannya adalah menjadi tugas dan tujuan yang paling utama bagi setiap pendidikan.

Hal yang demikian tidak mungkin berlaku kecuali setelah setiap pendidik membiasakan anak-anak mengingati Allah ketika mereka sedang bekerja, berfikir dan mendapat sesuatu. Ibu bapa perlu banyak mendidik anak-anak dengan membiasakan mereka melihat perbuatan yang baik daripada ibu bapa. Sebagai contoh Sahal bin Abdullah menceritakan bahawa:

"Ketika aku berumur tiga tahun, aku sudah mulai bangun malam dan memerhatikan bapa saudaraku solat. Tiba-tiba pada suatu hari dia bertanya kepada aku, adakah engkau mengingati Allah yang menjadikan engkau? Lalu aku bertanya, bagaimana cara mengingati-Nya?, kemudian beliau berkata kepada ku, sebutkan dalam hatimu tiga kali ketika hendak tidur tanpa menggerakkan lidah mu (Allah bersamaku, Allah melihatku dan Allah menyaksikanku).

Setelah beberapa kali aku melakukan, lalu disuruhkan pula aku menyebutnya tujuh kali pada setiap malam. Selepas itu disuruhnya pula sebelas kali sehingga aku merasakan kemanisan bacaan itu dalam hatiku. Setelah berlalu masa setahun, maka dia berkata kepadaku, "Wahai Sahal! jagalah baik-baik apa yang aku ajarkan engkau itu dan bacalah ia hingga engkau masuk ke dalam kubur."

Katanya lagi, "Wahai Sahal! Siapa yang mengetahui dan menyedari yang Allah sentiasa bersamanya, menyaksikannya, apakah boleh dia berbuat maksiat lagi? Jauhkanlah dirimu daripada perbuatan maksiat." Melalui proses latihan yang disebutkan di atas serta pendidikan keimanan yang murni muncullah Sahal menjadi seorang ulama' yang terkenal.



SOLAT

Firman Allah bermaksud:

"Wahai anak kesayanganku! Dirikanlah solat." (Surah Luqman: 17). Islam memberikan keutamaan yang sangat besar kepada solat yang tidak pernah diberikan kepada ibadat lain. Kerana ia adalah tiang agama, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w bermaksud: "Pokok pangkal sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah solat dan kemuncaknya adalah jihad fi sabillillah." Solat yang dikhendaki oleh Islam bukanlah sekadar berkata-kata yang diucapkan oleh lidah dan pergerakan badan.

Tetapi solat yang sebenar adalah yang dilakukan dengan penuh perhatian dan tumpuan pemikiran, penuh rasa takut dalam hati serta menzahirkan keagungan dan kebesaran Allah, itulah solat yang diterima oleh Allah SWT.

Dari segi kejiwaan, solat memberikan ketenangan dan kekuatan bagi jiwa seseorang. Daripada segi kesihatan, ia mendidik seseorang supaya menjaga kebersihan dan melatih badan agar sentiasa segar dan cergas. Dari segi akhlak pula ia mencegah perbuatan mungkar dan menjaga waktu manakala dan dari segi kemasyarakatan solat mendidik persamaan dan persaudaraan.


Berbakti kepada kedua ibu bapa

Firman Allah yang bermaksud:

"Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya, ibunya mengandungkan dengan menanggung kelemahan demi kelemahan, dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun. "Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapamu, kepada Ku jua tempatmu kembali." (Surah Luqman: 41)

Ibu bapa mempunyai kedudukan yang paling istimewa. Mereka menduduki tempat yang kedua sesudah beriman kepada Allah dan Rasulullah. Oleh kerana itu, tiada seorang pun di atas muka bumi ini yang dapat menyamai kedua dua ibu bapa. Berbakti kepada ibu bapa adalah wajib ke atas setiap anak dalam apa jua keadaan sekalipun ia merupakan asas terpenting dalam pendidikan Islam.

Manakala menderhaka kepada kedua ibu bapa adalah berdosa besar. Adalah mudah bagi anak-anak yang sudah biasa terdidik atas sikap berbakti dan menghormati kedua ibu bapa untuk dididik dan diasuh supaya menghormati jiran tetangga, guru-guru dan seterusnya menghormati manusia seluruhnya.


SABAR

Kesabaran adalah suatu keperluan dalam usaha menegakkan keimanan, melaksanakan amal soleh, memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Semuanya bukanlah suatu perkara yang mudah. Oleh itu, ia sangat memerlukan kesabaran. Kesabaran dalam menghadapi hawa nafsu, musuh-musuh luar dan kesusahan lain. Begitu juga kesabaran amat perlu dalam menempuh jalan perjuangan yang amat panjang dan semestinya mengikuti tahap-tahap yang teratur untuk menuju matlamat.


JANGAN SOMBONG

Sifat takabur adalah lahir daripada perasaan bangga diri yang merasakan dirinya lebih baik daripada orang lain. Biasanya seseorang yang takabur dikuasai oleh sifat-sifat buruk lain seperti taksub, mudah marah, dendam dan hasad dengki. Sebaliknya, Islam menganjurkan tawadduk kerana ia salah satu sifat terpuji yang amat digalakkan oleh Islam. Kalau takabur menjadi punca pertelingkahan dan perbalahan, maka tawaduk adalah pengikat yang menguatkan persaudaraan, mengukuhkan perpaduan serta melahirkan keselamatan dan ketenangan.


KESEDERHANAAN

Kesederhanaan menggambarkan ketenangan dan kesopanan tingkah laku. Tenang dan sopan santun adalah buah daripada budi pekerti mulia yang sangat dituntut oleh Islam. Begitu juga melembutkan suara ketika bercakap adalah menjadi ukuran pekerti mulia.


DAKWAH

Adalah menjadi fardhu ain bagi setiap muslim supaya melaksanakan tugas menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Firman Allah bermaksud:

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah daripada yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung," (Surah Ali Imran: 104).

Pendidikan Luqman adalah pendidikan yang menyeluruh dan lengkap meliputi asas-asas aqidah, ibadat, akhlak dan dakwah. Oleh sebab itulah Allah telah merakamkan pendidikan Luqman itu untuk dijadikan contoh kepada umat Islam sepanjang zaman.

Wednesday, May 17, 2006

Metode Pendidikan Anak Usia Pra Sekolah

oleh : Abu Amr Ahmad Sulaiman

Sumber: Blognya Mbak Tieneke



Yang Benar dan yang Salah

Benar : Anda kembali kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala dan berdoa kepada-Nya, memohon agar Dia senantiasa menolong Anda dalam mendidik anak-anak.
Salah : Mendoakan keburukan atas diri sendiri dan anak-anak Anda, karena bisa jadi doa itu akan terkabulkan.

Benar : Anda menyadari bahwa mendidik anak-anak hukumnya wajib, sehingga Anda bersedia mem-pergauli mereka dan menyediakan waktu khusus untuk mendidik mereka.
Salah : Tidak membantu isteri dalam mendidik anak. Anda menyerahkan pendidikan anak kepada ibunya saja, dan menyangka Anda telah menjalankan kewajiban dan menunaikan amanat.

Benar : Anda menanyakan kepada diri Anda setiap hari, kebaikan apa yang telah Anda berikan kepada mereka dan apa yang telah Anda ajarkan kepada mereka hari ini ?
Salah : Anda menjauh dari mereka dengan alasan pekerjaan duniawi, atau bahkan alasan kegiatan dakwah.

Benar : Anda jadikan saat-saat berkumpul dengan anak-anak Anda saat-saat yang menyenangkan, ter-buka dan dengan lapang dada.
Salah : Anda menutup diri dari mereka, tidak mendengar pendapat mereka dan tidak peduli dengan permasalahan mereka.

Benar : Anda senantiasa mematuhi program pendidikan untuk anak-anak Anda dan tidak meninggalkannya dengan alasan apapun.
Salah : Menghentikan pendidikan anak-anak atau melalaikan program pendidikan mereka karena suatu sebab yang sia-sia.

Benar : Anda menyadari bahwa perbaikan pendidikan anak-anak Anda merupakan langkah untuk mengembalikan kemuliaan Islam.
Salah : Anda mengira atau setan membisikkan kepada Anda bahwa pendidikan mereka tergantung pada kondisi dan waktu kosong Anda, sehingga Anda mendustakan diri Anda sendiri dalam perbuatan untuk mengembalikan kemuliaan Islam.

Benar : Anda menginginkan dari pernikahan dan kelahiran anak itu untuk pendidikan anak sehingga mereka menjadi seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Khalid dan sebagainya.
Salah : Anda melupakan tujuan pendidikan karena perjalanan waktu, sehingga Anda tidak lagi mengajarkan hal-hal yang seharusnya diajarkan kepada anak-anak Anda, berikut sisi-sisi lain pendidikan seperti pendidikan akal, kejiwaan dan sebagainya yang seharusnya Anda ajarkan kepada mereka, untuk mengembalikan kejayaan Islam yang pernah ada pada masa lalu.

Benar : Anda selalu mengikuti perkembangan baru dalam pendidikan sebagai tambahan dari teori pendidikan dasar yang telah Anda ketahui.
Salah : Anda lalai dengan meninggalkan anak-anak Anda terdidik oleh layar televisi tanpa pengarahan sama sekali dari Anda.

Benar : Anda menjadi suri teladan yang baik dalam perbuatan dan ucapan Anda, yang akan ditiru oleh keluarga dan anak-anak Anda.
Salah : Anak-anak Anda melihat Anda berwajah dua, seakan mencampur madu dengan cuka, tanpa rasa bersalah kemudian Anda melarang mereka berbuat kesalahan.

Benar : Anda faham dan mengerti tabiat pada fase-fase umur anak dan tuntutan-tuntutan pada tiap fase untuk anak-anak Anda.
Salah : Anda menuntut anak agar berbuat seperti orang-orang bijaksana dan orang pandai tanpa mau mengerti tuntutan yang sesuai dengan umur mereka dan tidak memenuhi tuntutan-tuntutan itu baginya.

Benar : Anda mempergauli anak-anak Anda dengan sebaik-baiknya dan menghormati mereka seba-gaimana menghormati anak yang sudah besar.
Salah : Anda selalu menghindari mereka dan mereka selalu takut kepada Anda dikarenakan Anda meremehkan, mencela dan merendahkan mereka.

Benar : Anda sering-sering memotifasi, memberi sema-ngat dan memberi hadiah untuk mereka serta menggunakannya secara beragam.
Salah : Anda sering menghukum, khususnya hukuman fisik.

Benar : Anda mengoreksi anak-anak Anda (bila bersalah) secara khusus ketika sendiri dan memberitahu mereka dengan kebenaran yang ingin Anda sampaikan.
Salah : Anda mengkritiknya di depan anak yang lain terus menerus dan mencelanya.

Benar : Anda memuji anak di depan anak-anak yang lain karena kebaikan yang dikerjakannya, sebagai usaha untuk membuang perbuatan buruknya.
Salah : Anda selalu mengingatkannya atas kekurangan-kekurangannya, menyebutnya di depan anak-anak yang lain dan tidak pernah memujinya sama sekali.

Benar : Membiasakan anak-anak mengurus diri mereka sendiri, seperti pakaiannya, kamarnya, buku-bukunya, dan memujinya atas perbuatan itu.
Salah : Mengerjakan segala pekerjaan anak dan tidak membiasakannya berdikari.

Benar : Membiasakan anak selalu menjaga kebersihan, seperti kebersihan gigi, kebersihan kamarnya dan barang-barangnya.
Salah : Melalaikan kebersihan anak dan tidak mem-biasakannya untuk menjaga kebersihan apa yang menjadi miliknya.

Benar : Membuat suasana yang penuh dengan persaingan yang sehat antaranak untuk membangkitkan mereka.
Salah : Anda puas dengan tingkat kemahiran anak-anak tanpa berusaha untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Benar : Meneliti kecenderungan dan cita-cita anak serta memberikan kesempatan baginya untuk menguatkan keinginan itu dan menumbuhkannya.
Salah : Lalai terhadap kemampuan anak dan berang-gapan bahwa mereka hanya bisa merusak, melawan, menangis dan sebagainya.

Benar : Menemani anak pergi ke Masjid dan tempat-tempat orang dewasa, khususnya orang yang mengerti dan memahami kehidupan anak-anak.
Salah : Menganggap bahwa anak itu ،¥kecil،¦ dan hanya menyibukkan orang tua, atau tidak pantas mengajaknya bertemu dengan orang-orang besar, meski hanya sebentar.

Benar : Memberi tempat khusus atau kamar bagi anak, di dalamnya diletakkan segala miliknya, kursinya dan piagam-piagamnya.
Salah : Tidak memberi tempat sama sekali bagi anak di rumah dan tidak membiasakannya menghormati aturan umum dalam rumah.

Benar : Menyediakan perpustakaan khusus bagi anak, diisi dengan kaset-kaset, buku-buku cerita, pemandangan, gambar-gambar, peralatan mewarnai dan lain sebagainya.
Salah : Meremehkan kemampuan seni dan keilmuan anak.

Benar : Mempergunakan berbagai sarana modern dalam pendidikan, seperti video, komputer dan alat perekam.
Salah : Hanya terbatas pada penggunaan buku-buku dan cerita-cerita secara lisan.

Benar : Membiasakan anak dua hal yang sunnah, yaitu salam dan minta izin ketika masuk dan keluar rumah.
Salah : Mengecilkan nilai sunnah-sunnah ini atas diri anak dan lalai untuk mengajarkannya kepada anak.

Benar : Membiasakan anak untuk pamitan dengan baik dan gembira dalam menyambut kedatangannya, meski hal itu kadang membebani.
Salah : Menjadikan kepergian dan kedatangan anak hal yang biasa tanpa perasaan kasih sayang atau bahagia.

Benar : Bermain dengan anak dan bersikap kekanak-kanakan bersama mereka meski hanya sebentar saja.
Salah : Bersikap keras terhadap anak dan selalu menjauh darinya dengan alasan ingin istirahat dan tidur.

Benar : Membiasakan anak untuk mempergunakan ruqyah syar،¦iyahƒx ketika akan tidur, ketika sakit dan menghubungkan antara adanya kesembuhan itu karena Allah Subhannahu wa Ta'ala kemudian karena dokter.
Salah : Melalaikan anak dari perbuatan-perbuatan sunnah yang baik ini, dan membiarkan anak menganggap kesembuhan hanya karena dokter saja